TugasMuAI Edukasi
ipaschedule5 menit baca

Katalog Rumus Fisika SMA Lengkap 2026: Rangkuman 5 Domain Materi dan Rumus Cepat

TM
Tim Kurasi TugasMuverified

Diterbitkan pada 21 Oktober 2026

Fisika SMA merupakan cabang ilmu sains fundamental yang mendeskripsikan perilaku materi dan energi di alam semesta melalui formulasi matematis presisi. Penguasaan rumus fisika SMA dalam Kurikulum Merdeka menuntut integrasi antara pemahaman konsep fisis, analisis dimensional, serta pemilahan tegas antara besaran skalar dan vektor. Penurunan rumus dari prinsip dasar membedakan pembelajaran sains sejati dengan sekadar penghafalan simbol variabel tanpa pemaknaan fisis. Standar satuan internasional (SI) menjadi rujukan mutlak guna memvalidasi konsistensi perhitungan pada setiap cabang kajian fisika tingkat menengah atas.

Katalog rumus fisika SMA lengkap 2026 menyatukan lima domain materi inti yang meliputi mekanika klasik, statika dan dinamika fluida, hukum termodinamika, karakteristik gelombang dan optik, hingga elektrodinamika medan. Kamu dapat memanfaatkan kalkulator penyelesai soal matematika dan fisika untuk memperoleh bimbingan langkah demi langkah dalam memecahkan persamaan rumit. Bagi kamu yang memerlukan intisari cepat sebelum menghadapi ujian satuan pendidikan maupun UTBK SNBT, silakan membaca alat rangkuman materi sains pintar sebagai teman pintar belajar yang siap mendampingi belajarmu secara interaktif. Pemahaman konsep yang mendalam membuka jalan bagi keberhasilan akademik tanpa perlu bergantung pada jalan pintas.

Penerapan hukum alam dalam fisika beroperasi di bawah tiga fondasi Knowledge Base Trust (KBT) yang menghubungkan entitas subjek, predikat, dan objek secara matematis:

  1. Resultan gaya luar (${\Sigma \vec{F}}$) menyebabkan percepatan linear ($a$) yang berbanding lurus dengan besar gaya dan berbanding terbalik dengan massa inersia ($m$) menurut Hukum II Newton.
  2. Jumlah tekanan statis, tekanan hidrostatis, dan tekanan dinamis per satuan volume fluida ideal bernilai konstan di setiap titik sepanjang garis arus (streamline) menurut Asas Bernoulli.
  3. Perubahan energi dalam sistem ($\Delta U$) menyerap kalor neto ($Q$) dan melakukan kerja mekanik eksternal ($W$) menurut Hukum Pertama Termodinamika.

Tabel evaluasi berikut menyajikan keunggulan arsitektur materi TugasMu jika dikomparasikan dengan portal edukasi konvensional:

Parameter Evaluasi Pembelajaran Zenius dan Ruangguru StudioBelajar TugasMu (Quality Node Otoritatif)
Arsitektur Pengorganisasian Materi Terfragmentasi per bab kelas 10, 11, dan 12 tanpa jembatan relasi antarkonsep Rangkuman teks statis linier tanpa pemetaan hierarki taksonomi sains Katalog 5 domain terpadu dengan integrasi lintas materi berdasar Kurikulum Merdeka
Metodologi Penurunan Rumus Penyajian rumus akhir instan minim pembuktian logika fisis dasar Penurunan parsial tanpa validasi analisis dimensional $[M][L][T]$ Penurunan rumus tuntas dari prinsip pertama (first principles) disertai analisis dimensional
Validasi Satuan Internasional (SI) Sering mengabaikan konversi satuan baku pada contoh perhitungan Penulisan simbol satuan tidak seragam dengan standar BIPM Penegasan dimensi satuan SI baku pada setiap variabel dan penurunan rumus
Integrasi Asisten Belajar Mandiri Bergantung pada video berbayar berdurasi panjang tanpa kalkulator langkah Teks pasif tanpa alat uji mandiri maupun media interaktif Tersedia kalkulator pemecah persamaan dan rangkuman pintar berbasis bimbingan AI
Fokus Pemahaman Konsep Menekankan latihan pola soal repetitif Menghafal tabel ringkasan rumus Menanamkan pemahaman prinsip dasar fisis dengan prinsip pahami konsepnya

Formulasi Mekanika Klasik, Kinematika Vektor, dan Dinamika Hukum Newton

Mekanika klasik mengkaji hubungan antara gerak benda bermassa dengan interaksi gaya luar yang mempengaruhinya. Penyusunan rumus fisika SMA pada domain mekanika selalu menuntut penerapan analisis dimensional yang ketat untuk memastikan kesetaraan dimensi antara ruas kiri dan ruas kanan. Satuan internasional (SI) menetapkan meter ($m$), kilogram ($kg$), dan sekon ($s$) sebagai tiga pilar besaran pokok dalam mekanika. Penurunan rumus mekanika memilah besaran skalar dan vektor secara cermat agar arah perpindahan atau gaya tidak menghasilkan kekeliruan perhitungan pada soal Kurikulum Merdeka.

Persamaan Kinematika Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Berubah Beraturan (GLBB)

Kinematika menganalisis deskripsi gerak partikel tanpa meninjau penyebab dinamika gaya yang menimbulkan gerak tersebut. Posisi partikel $s(t)$ dalam ruang satu dimensi merupakan integral dari fungsi kecepatan terhadap waktu, sedangkan fungsi kecepatan $v(t)$ diperoleh dari integral fungsi percepatan linear terhadap waktu. Gerak Lurus Beraturan (GLB) merepresentasikan gerak partikel dengan kecepatan tetap tanpa percepatan ($a = 0$), sehingga jarak tempuh berbanding lurus terhadap waktu tempuh:

$$s = v \cdot t$$

Kajian kinematika gerak translasi dapat kamu eksplorasi lebih komprehensif pada artikel khusus rumus gerak lurus yang membahas ragam grafik $s-t$, $v-t$, dan $a-t$. Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) terjadi saat partikel mengalami percepatan konstan ($a = \text{tetap}$), yang melahirkan tiga persamaan matematis fundamental:

$$v_t = v_0 + a \cdot t$$

$$s = v_0 \cdot t + \frac{1}{2} a \cdot t^2$$

$$v_t^2 = v_0^2 + 2 a \cdot s$$

Variabel $v_0$ melambangkan kecepatan awal ($m/s$), $v_t$ menyatakan kecepatan akhir pada waktu $t$ ($m/s$), $a$ menyatakan percepatan linear ($m/s^2$), $s$ menyatakan jarak atau perpindahan ($m$), dan $t$ menyatakan selang waktu ($s$). Analisis dimensional membuktikan suku $\frac{1}{2} a t^2$ memiliki dimensi $[L][T]^{-2} \cdot [T]^2 = [L]$, setara dengan dimensi perpindahan $s$ yang membuktikan konsistensi matematis persamaan ini.

Gerak jatuh bebas merupakan wujud khusus dari GLBB vertikal ke bawah tanpa kecepatan awal ($v_0 = 0$) dengan percepatan sebesar percepatan gravitasi bumi ($a = g$). Kecepatan partikel sesaat sebelum menyentuh permukaan tanah dari ketinggian jatuh $h$ dirumuskan secara lugas:

$$v_t = \sqrt{2 g h}$$

Gerak parabola mengombinasikan dua jenis gerak secara independen pada dua sumbu koordinat kartesius. Sumbu horizontal $X$ mengalami gerak lurus beraturan (GLB) dengan kecepatan konstan $v_x = v_0 \cos\theta$, sedangkan sumbu vertikal $Y$ mengalami GLBB yang diperlambat oleh gravitasi bumi dengan persamaan kecepatan $v_y = v_0 \sin\theta - g t$. Waktu yang diperlukan partikel untuk mencapai titik tertinggi ($v_y = 0$) dan titik terjauh di permukaan tanah dirumuskan melalui hubungan berikut:

$$t_{\text{puncak}} = \frac{v_0 \sin\theta}{g}, \quad t_{\text{terjauh}} = \frac{2 v_0 \sin\theta}{g}$$

Ketinggian maksimum ($Y_{\text{max}}$) dan jarak mendatar terjauh ($X_{\text{max}}$) yang dicapai peluru bermula dari elevasi penembakan $\theta$:

$$Y_{\text{max}} = \frac{v_0^2 \sin^2\theta}{2 g}, \quad X_{\text{max}} = \frac{v_0^2 \sin(2\theta)}{g}$$

Jarak mendatar terjauh tercapai saat sudut elevasi $\theta = 45^\circ$ karena nilai fungsi trigonometri $\sin(2 \cdot 45^\circ) = \sin 90^\circ = 1$ menghasilkan nilai matematis maksimum.

Dinamika Translasional Hukum Newton, Gaya Gesek, dan Analisis Bidang Miring

Dinamika translasional menelaah interaksi gaya-gaya yang bekerja pada benda bermassa sebagai agen penyebab perubahan keadaan gerak. Penjelasan mendalam mengenai ketiga hukum dasar gerak dapat kamu temukan pada panduan hukum Newton 1 2 3 beserta aplikasi diagram gaya bebasnya. Hukum Pertama Newton mendefinisikan sifat kelembaman (inersia) materi melalui syarat kesetimbangan statis dan dinamis translasional:

$$\sum \vec{F} = 0$$

Hukum Kedua Newton menyatakan bahwa percepatan partikel berbanding lurus dengan resultan gaya yang bekerja dan berbanding terbalik dengan massa kelembamannya. Arah vektor percepatan identik dengan arah resultan vektor gaya:

$$\sum \vec{F} = m \vec{a}$$

Satuan internasional gaya adalah Newton ($N$), yang didefinisikan setara dengan $1,\text{kg}\cdot\text{m/s}^2$ dengan dimensi mekanika baku $[M][L][T]^{-2}$. Interaksi gaya gravitasi bumi pada benda bermassa melahirkan gaya berat yang diuraikan secara analitis dalam pembahasan gaya gravitasi dan berat benda. Hukum Ketiga Newton menetapkan bahwa gaya aksi dan reaksi memiliki besar yang identik, bekerja pada garis kerja yang sama, berlawanan arah, namun selalu bekerja pada dua benda yang berbeda sehingga tidak saling meniadakan:

$$\vec{F}{\text{aksi}} = -\vec{F}{\text{reaksi}}$$

Gaya kontak antara dua permukaan padat terbagi menjadi gaya normal dan gaya gesek. Gaya gesek statis ($f_s$) bekerja saat permukaan belum mengalami pergeseran relatif, dengan batas nilai maksimum yang sebanding dengan gaya normal penekan permukaan:

$$f_{s,\text{max}} = \mu_s N$$

Gaya gesek kinetis ($f_k$) muncul saat kedua permukaan benda telah mengalami gerak relatif satu sama lain:

$$f_k = \mu_k N$$

Variabel $\mu_s$ dan $\mu_k$ berturut-turut merupakan koefisien gesek statis dan koefisien gesek kinetis tanpa satuan dimensi, dengan relasi nilai $\mu_s > \mu_k$.

Analisis dinamika bidang miring dengan sudut kemiringan $\theta$ terhadap bidang horizontal menuntut penguraian gaya berat benda $W = m g$ ke dalam dua sumbu tegak lurus:

  • Komponen gaya berat sejajar permukaan bidang miring: $W_{\parallel} = m g \sin\theta$.
  • Komponen gaya berat tegak lurus permukaan bidang miring: $W_{\perp} = m g \cos\theta$.

Kondisi kesetimbangan pada sumbu tegak lurus bidang menghasilkan gaya kontak normal permukaan:

$$N = m g \cos\theta$$

Percepatan meluncur benda bermassa $m$ ke arah bawah pada bidang miring kasar dipengaruhi oleh koefisien gesek kinetis $\mu_k$:

$$a = g (\sin\theta - \mu_k \cos\theta)$$

Persamaan percepatan ini membuktikan bahwa massa benda tereliminasi secara matematis, sehingga laju percepatan murni ditentukan oleh nilai percepatan gravitasi lokal, sudut elevasi kemiringan, dan kekasaran permukaan kontak.

Usaha, Teorema Usaha-Energi Kinetik, dan Hukum Kekekalan Energi Mekanik

Usaha ($W$) dalam mekanika didefinisikan sebagai perkalian skalar (dot product) antara vektor gaya luar $\vec{F}$ dengan vektor perpindahan $\Delta\vec{r}$. Perkalian skalar ini menghasilkan besaran skalar berdimensi $[M][L]^2[T]^{-2}$ dengan satuan Joule ($J = N\cdot m = \text{kg}\cdot\text{m}^2/\text{s}^2$):

$$W = \vec{F} \cdot \Delta\vec{r} = F \cdot s \cdot \cos\theta$$

Sudut $\theta$ merepresentasikan sudut apit terkecil antara arah vektor gaya penarik dan arah lintasan perpindahan benda. Jika gaya tegak lurus perpindahan ($\theta = 90^\circ$), nilai $\cos 90^\circ = 0$ sehingga usaha mekanik bernilai nol.

Teorema usaha-energi kinetik menghubungkan total usaha neto yang dilakukan seluruh gaya pada benda dengan perubahan energi kinetik translasi partikel tersebut:

$$W_{\text{net}} = \Delta E_k = \frac{1}{2} m v_t^2 - \frac{1}{2} m v_0^2$$

Energi potensial gravitasi mengukur potensi energi yang tersimpan akibat posisi benda di dalam medan gravitasi bumi setinggi $h$:

$$E_{p,\text{gravitasi}} = m g h$$

Energi potensial elastis pegas menurut Hukum Hooke ($F_p = -k \Delta x$) timbul akibat deformasi pertambahan panjang $\Delta x$ dari posisi setimbangnya:

$$E_{p,\text{pegas}} = \frac{1}{2} k (\Delta x)^2$$

Variabel $k$ menyatakan konstanta kekakuan pegas dengan satuan SI $N/m$ atau $\text{kg/s}^2$ dengan dimensi $[M][T]^{-2}$. Pada sistem terisolasi di mana hanya gaya konservatif yang bekerja, energi total sistem mematuhi hukum kekekalan energi mekanik:

$$E_{m1} = E_{m2} \implies E_{k1} + E_{p1} = E_{k2} + E_{p2}$$

$$E_m = \frac{1}{2} m v^2 + m g h = \text{konstan}$$

Jika pada lintasan gerak bekerja gaya non-konservatif seperti gesekan udara atau gesekan kinetis permukaan bidang, usaha dari gaya dissipatif tersebut mereduksi energi mekanik total menjadi energi termal:

$$W_{\text{gesek}} = \Delta E_m = E_{m2} - E_{m1} = -f_k \cdot s$$

Laju perubahan usaha terhadap waktu didefinisikan sebagai daya mekanik ($P$) dengan satuan Watt ($W = J/s$):

$$P = \frac{dW}{dt} = \vec{F} \cdot \vec{v}$$

Momentum Linear, Impuls Tumbukan, dan Gerak Melingkar Beraturan

Momentum linear ($\vec{p}$) merupakan ukuran kuantitatif kesukaran menghentikan benda yang sedang bergerak, terdefinisi sebagai perkalian massa skalar dengan vektor kecepatan:

$$\vec{p} = m \vec{v}$$

Dimensi momentum linear adalah $[M][L][T]^{-1}$ dengan satuan kilogram meter per sekon ($\text{kg}\cdot\text{m/s}$). Impuls gaya ($\vec{I}$) adalah integral dari gaya kontak yang bekerja sepanjang durasi waktu sentuh $\Delta t$:

$$\vec{I} = \int_{t_1}^{t_2} \vec{F} dt = \vec{F}_{\text{rata}} \cdot \Delta t = \Delta\vec{p}$$

Hukum kekekalan momentum linear berlaku mutlak pada sistem tertutup saat tidak terdapat resultan gaya luar yang bekerja pada sistem ($\sum \vec{F}_{\text{eksternal}} = 0$):

$$m_1 \vec{v}_1 + m_2 \vec{v}_2 = m_1 \vec{v}_1' + m_2 \vec{v}_2'$$

Karakteristik elastisitas interaksi dua benda diukur melalui koefisien restitusi ($e$), yang menyatakan perbandingan negatif antara kecepatan relatif sesudah tumbukan dan sebelum tumbukan:

$$e = -\frac{v_2' - v_1'}{v_2 - v_1}$$

Domain nilai koefisien restitusi membagi jenis tumbukan menjadi tiga kategori mekanik:

  • Tumbukan lenting sempurna ($e = 1$): Berlaku hukum kekekalan momentum linear dan hukum kekekalan energi kinetik secara simultan.
  • Tumbukan lenting sebagian ($0 < e < 1$): Berlaku hukum kekekalan momentum linear, namun terjadi penyusutan energi kinetik menjadi bentuk energi lain.
  • Tumbukan tidak lenting sama sekali ($e = 0$): Kedua partikel menempel dan bergerak bersama dengan kecepatan akhir yang sama ($v_1' = v_2' = v'$).

Gerak Melingkar Beraturan (GMB) menggambarkan lintasan partikel melingkar dengan kelajuan linear konstan. Kecepatan sudut ($\omega$) dalam radian per sekon ($rad/s$) berhubungan dengan frekuensi putar ($f$) dan periode ($T$):

$$\omega = 2 \pi f = \frac{2 \pi}{T}$$

Hubungan antara kelajuan linear ($v$), percepatan tangensial ($a_t$), dan jari-jari lintasan lingkaran ($r$) dirumuskan melalui perkalian skalar:

$$v = \omega \cdot r, \quad a_t = \alpha \cdot r$$

Meskipun kelajuan linear konstan, arah vektor kecepatan selalu berubah setiap saat ke arah garis singgung kurva lintasan. Perubahan arah vektor ini menghasilkan percepatan sentripetal ($a_s$) yang mengarah tegak lurus menuju pusat lingkaran:

$$a_s = \frac{v^2}{r} = \omega^2 \cdot r$$

Gaya sentripetal penahan lintasan kurva agar partikel tidak terlempar keluar dari garis edar lingkaran dirumuskan oleh Hukum Newton:

$$F_s = m a_s = m \frac{v^2}{r} = m \omega^2 r$$

Kajian rotasi benda tegar menghubungkan momen inersia ($I$) dan momen gaya atau torsi inersia ($\tau$):

$$\tau = I \cdot \alpha = r \cdot F \cdot \sin\theta$$

Momen inersia partikel berjarak $r$ dari sumbu rotasi dirumuskan sebagai $I = m r^2$. Momentum sudut ($L$) memenuhi hukum kekekalan momentum sudut jika torsi luar total bernilai nol ($\sum \tau = 0$):

$$L = I \cdot \omega = \text{konstan}$$

Energi kinetik total benda tegar yang menggelinding murni tanpa slip di permukaan datar mencakup gabungan energi kinetik translasi dan rotasi:

$$E_{k,\text{total}} = \frac{1}{2} m v^2 + \frac{1}{2} I \omega^2$$

Tabel berikut merangkum sintesis rumus mekanika klasik beserta analisis dimensional satuan internasionalnya:

Fenomena Mekanika Nama Formulasi Rumus Persamaan Matematis KaTeX Satuan Standar SI Dimensi Fisika SI
Kinematika Translasi Kecepatan Akhir GLBB $v_t^2 = v_0^2 + 2 a s$ $\text{m}^2/\text{s}^2$ $[L]^2[T]^{-2}$
Dinamika Translasi Hukum II Newton $\Sigma \vec{F} = m \vec{a}$ Newton ($N$) $[M][L][T]^{-2}$
Dinamika Gesekan Gaya Gesek Kinetis $f_k = \mu_k N$ Newton ($N$) $[M][L][T]^{-2}$
Kerja Mekanik Teorema Usaha-Energi $W = \Delta E_k = \frac{1}{2} m (v_t^2 - v_0^2)$ Joule ($J$) $[M][L]^2[T]^{-2}$
Konservasi Energi Kekekalan Energi Mekanik $mgh_1 + \frac{1}{2}mv_1^2 = mgh_2 + \frac{1}{2}mv_2^2$ Joule ($J$) $[M][L]^2[T]^{-2}$
Tumbukan Partikel Koefisien Restitusi $e = -\frac{v_2' - v_1'}{v_2 - v_1}$ Tak berdimensi $[1]$
Kinematika Kurva Percepatan Sentripetal $a_s = \frac{v^2}{r} = \omega^2 r$ $\text{m/s}^2$ $[L][T]^{-2}$
Dinamika Rotasi Torsi Momen Gaya $\tau = I \alpha$ $\text{N}\cdot\text{m}$ $[M][L]^2[T]^{-2}$
Konservasi Sudut Momentum Sudut Rotasi $L = I \omega$ $\text{kg}\cdot\text{m}^2/\text{s}$ $[M][L]^2[T]^{-1}$

[!NOTE] Miskonsepsi Mekanika: Realitas Fisis Gaya Sentrifugal Banyak siswa beranggapan bahwa saat mobil berbelok tajam di tikungan, penumpang terlempar ke arah luar kurva akibat tarikan "gaya sentrifugal" nyata. Faktanya, dalam kerangka acuan inersial diam, gaya sentrifugal merupakan gaya fiktif (pseudo-force). Penumpang sebenarnya hanya berusaha mempertahankan arah gerak lurus aslinya sesuai Hukum I Newton (kelembaman), sedangkan satu-satunya gaya riil yang bekerja secara fisik adalah gaya gesek permukaan ban dengan aspal yang berperan sebagai gaya sentripetal menuju pusat tikungan.

Formulasi mekanika klasik membuktikan bahwa seluruh variasi lintasan partikel merupakan perwujudan interaksi vektor gaya luar yang dapat dihitung secara deterministik melalui kesetaraan dimensional.

Rumus Statika dan Dinamika Fluida Berdasarkan Prinsip Tekanan Kontinuitas

Kajian fluida mencakup zat alir berupa cairan dan gas yang tidak mampu mempertahankan bentuk tetap terhadap tegangan geser sekecil apa pun. Penerapan rumus fisika SMA pada domain fluida menuntut pemahaman terhadap kerapatan massa jenis zat alir dan distribusi tekanan pada setiap koordinat kedalaman. Analisis dimensional memastikan besaran tekanan memiliki dimensi massa per panjang per kuadrat waktu $[M][L]^{-1}[T]^{-2}$ yang konsisten dengan satuan internasional (SI) Pascal ($Pa = N/m^2$). Penurunan rumus fluida mengintegrasikan besaran skalar dan vektor guna membedakan arah gaya hidrostatis dengan nilai skalar medan tekanan fluida Kurikulum Merdeka.

Tekanan Hidrostatis, Hukum Pascal, dan Formulasi Bejana Berhubungan

Tekanan hidrostatis adalah tekanan yang dilakukan oleh fluida homogen dalam keadaan diam akibat gaya tarik gravitasi yang bekerja pada massa zat cair di atasnya. Persamaan matematis tekanan hidrostatis pada kedalaman $h$ dari permukaan bebas fluida diuraikan secara lugas:

$$P_h = \rho \cdot g \cdot h$$

Simbol $\rho$ mewakili massa jenis fluida ($\text{kg/m}^3$), $g$ adalah percepatan gravitasi bumi ($m/s^2$), dan $h$ adalah kedalaman vertikal yang diukur dari permukaan atas fluida ($m$). Analisis konsep detail mengenai fenomena ini dapat kamu pelajari lebih lanjut pada glosarium tekanan hidrostatis. Bila permukaan wadah terbuka langsung menuju atmosfer bumi, tekanan mutlak (absolut) pada kedalaman $h$ menjumlahkan kontribusi tekanan udara luar atmosfer $P_0$:

$$P_{\text{total}} = P_0 + \rho g h$$

Tekanan gauge ($P_{\text{gauge}}$) menyatakan selisih antara tekanan mutlak yang terukur oleh instrumen manometer dengan tekanan atmosfer lokal sekitar:

$$P_{\text{gauge}} = P_{\text{total}} - P_0 = \rho g h$$

Nilai standar tekanan atmosfer permukaan laut adalah $1,\text{atm} = 1{,}013 \times 10^5,\text{Pa} = 76,\text{cmHg}$.

Hukum Pascal menetapkan bahwa tekanan eksternal yang diaplikasikan pada fluida tertutup akan diteruskan ke segala penjuru ruang fluida dengan nilai sama besar tanpa pengurangan. Prinsip ini mendasari cara kerja dongkrak dan rem hidrolik melalui relasi perbandingan gaya tekan terhadap luas penampang torak:

$$\frac{F_1}{A_1} = \frac{F_2}{A_2} \implies F_2 = F_1 \cdot \frac{A_2}{A_1} = F_1 \left(\frac{d_2}{d_1}\right)^2$$

Variabel $d_1$ dan $d_2$ masing-masing menyatakan diameter penampang piston kecil dan piston besar. Persamaan kuadrat diameter ini membuktikan bahwa pelipatgandaan diameter silinder kedua sebesar dua kali akan meningkatkan gaya angkat keluaran sebesar empat kali lipat.

Hukum utama hidrostatis pada pipa U bejana berhubungan menyatakan bahwa semua titik yang berada pada bidang horizontal yang sama di dalam zat cair sejenis dan homogen memiliki tekanan hidrostatis yang identik:

$$P_A = P_B \implies \rho_1 \cdot g \cdot h_1 = \rho_2 \cdot g \cdot h_2 \implies \rho_1 h_1 = \rho_2 h_2$$

Persamaan bejana berhubungan tersebut memungkinkan pengukuran massa jenis zat cair yang belum diketahui secara akurat dengan menggunakan air sebagai zat cair pembanding standar.

Hukum Archimedes, Gaya Apung, dan Kondisi Terapung Melayang Tenggelam

Hukum Archimedes mengemukakan bahwa benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam fluida akan mengalami gaya ke atas (gaya apung) yang besarnya tepat sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh volume benda tersebut. Prinsip fisika ini dirangkum secara ringkas dalam kamus istilah sains hukum Archimedes. Persamaan matematis gaya apung Archimedes ($F_a$) dirumuskan sebagai berikut:

$$F_a = \rho_f \cdot V_{\text{celup}} \cdot g$$

Variabel $\rho_f$ melambangkan massa jenis fluida perendam, $V_{\text{celup}}$ menyatakan volume bagian benda yang tenggelam di bawah batas permukaan fluida ($m^3$), dan $g$ adalah percepatan gravitasi bumi. Berat semu benda saat berada di dalam fluida ($W'$) terasa lebih ringan dibandingkan berat aslinya di udara ($W = m g$) akibat sokongan gaya apung ini:

$$W' = W - F_a = m g - \rho_f V_{\text{celup}} g$$

Perbandingan antara massa jenis rata-rata benda ($\rho_b$) dan massa jenis fluida ($\rho_f$) memicu tiga kondisi kesetimbangan hidrostatis:

  • Benda terapung ($\rho_b < \rho_f$): Resultan gaya vertikal nol saat sebagian volume tercelup ($F_a = W$). Fraksi volume benda yang tenggelam memenuhi relasi $\frac{V_{\text{celup}}}{V_b} = \frac{\rho_b}{\rho_f}$, sedangkan fraksi volume yang mencuat di atas permukaan adalah $\frac{V_{\text{muncul}}}{V_b} = 1 - \frac{\rho_b}{\rho_f}$.
  • Benda melayang ($\rho_b = \rho_f$): Seluruh volume benda tercelup sempurna di bawah permukaan ($V_{\text{celup}} = V_b$), dengan gaya apung tepat mengimbangi gaya berat ($F_a = W$) di sembarang kedalaman fluida.
  • Benda tenggelam ($\rho_b > \rho_f$): Gaya apung maksimum tidak mampu mengimbangi gaya gravitasi ($F_a < W$), sehingga benda meluncur turun menabrak dasar wadah dengan gaya tekan normal dasar sebesar $N = W - F_a$.

Tegangan permukaan zat cair ($\gamma$) timbul dari gaya tarik kohesi molekuler netto ke arah dalam fluida pada batas antarmuka. Koefisien tegangan permukaan diukur melalui perbandingan gaya pemecah selaput film ($F$) terhadap panjang garis keliling kontak ($d$):

$$\gamma = \frac{F}{d} = \frac{F}{2 L}$$

Kenaikan atau penurunan zat cair di dalam pipa kapiler sempit beradius $r$ dikendalikan oleh tegangan permukaan dan sudut kontak meniskus $\theta$:

$$h = \frac{2 \gamma \cos\theta}{\rho g r}$$

Sudut kontak $\theta < 90^\circ$ menghasilkan meniskus cekung dan kenaikan kapiler cairan (misalnya air pada kaca), sedangkan $\theta > 90^\circ$ menghasilkan meniskus cembung dan penurunan cairan kapiler (misalnya air raksa pada tabung kaca).

Persamaan Kontinuitas Debit, Asas Bernoulli, dan Penerapan Tabung Venturi

Dinamika fluida ideal mengkaji zat alir yang memenuhi empat kriteria asumsi: inkompresibel (massa jenis konstan), non-viskos (tidak memiliki gesekan internal), aliran laminer (garis arus tidak saling bersilangan), dan stasioner (kecepatan fluida pada tiap titik tidak bergantung waktu). Debit aliran ($Q$) menyatakan laju volume fluida yang melintasi penampang pipa per satuan waktu:

$$Q = \frac{V}{t} = A \cdot v$$

Dimensi debit aliran fluida adalah $[L]^3[T]^{-1}$ dengan satuan internasional meter kubik per sekon ($m^3/s$). Persamaan kontinuitas mendalilkan hukum kekekalan massa untuk fluida inkompresibel di sepanjang pipa alir bercabang atau menyempit:

$$A_1 v_1 = A_2 v_2 \implies \frac{v_2}{v_1} = \frac{A_1}{A_2} = \left(\frac{d_1}{d_2}\right)^2$$

Penyempitan luas penampang pipa alir berbanding terbalik secara kuadratik terhadap percepatan laju linier fluida yang melintasinya.

Asas Bernoulli merupakan aplikasi langsung dari teorema usaha-energi kinetik per satuan volume fluida yang mengalir sepanjang garis arus streamline:

$$P_1 + \frac{1}{2} \rho v_1^2 + \rho g h_1 = P_2 + \frac{1}{2} \rho v_2^2 + \rho g h_2 = \text{konstan}$$

Suku $P$ melambangkan tekanan statis, suku $\frac{1}{2}\rho v^2$ merepresentasikan tekanan dinamis, dan suku $\rho g h$ menyatakan tekanan hidrostatis potensial. Teorema Torricelli adalah penyederhanaan Asas Bernoulli untuk menghitung kelajuan semburan air yang keluar dari lubang kebocoran kecil pada dinding tangki terbuka di kedalaman $h$ dari permukaan atas fluida:

$$v = \sqrt{2 g h}$$

Jarak mendatar jangkauan pancaran air ($x$) sebelum menyentuh tanah dari dasar tangki berjarak total $H$ diuraikan melalui hubungan:

$$x = 2 \sqrt{h (H - h)}$$

Jangkauan mendatar pancaran semburan mencapai nilai matematis maksimal saat lubang kebocoran berada tepat di tengah ketinggian total tangki ($h = \frac{1}{2}H$).

Tabung Venturimeter dirancang untuk mengukur kelajuan fluida di dalam pipa tertutup dengan memanfaatkan fenomena perbedaan tekanan dinamis Bernoulli. Kelajuan fluida masuk ($v_1$) pada tabung Venturi tanpa manometer yang memiliki beda tinggi permukaan cairan $\Delta h$ dirumuskan oleh persamaan:

$$v_1 = \sqrt{\frac{2 g \Delta h}{\left(\frac{A_1}{A_2}\right)^2 - 1}}$$

Venturimeter yang dilengkapi manometer dengan zat cair pengukur bermassa jenis $\rho'$ menghasilkan formulasi kelajuan:

$$v_1 = \sqrt{\frac{2 (\rho' - \rho) g h}{\rho \left[ \left(\frac{A_1}{A_2}\right)^2 - 1 \right]}}$$

Tabung Pitot pengukur kecepatan aliran fluida gas dalam pipa menggunakan hubungan kelajuan $v = \sqrt{\frac{2 \rho' g h}{\rho}}$, di mana $\rho'$ adalah massa jenis zat cair penunjuk manometer dan $\rho$ adalah massa jenis fluida gas yang diukur.

Viskositas Fluida Riil, Hukum Stokes, dan Kecepatan Terminal Partikel

Fluida riil di alam selalu memiliki gesekan internal yang disebut viskositas dinamis ($\eta$). Saat sebuah partikel berbentuk bola padat berjari-jari $r$ bergerak menembus fluida beriklim viskositas dinamis $\eta$ dengan kelajuan $v$, fluida memberikan gaya gesek hambat yang diformulasikan oleh Hukum Stokes:

$$F_s = 6 \pi \eta r v$$

Satuan viskositas dinamis $\eta$ dalam sistem internasional adalah Pascal sekon ($Pa\cdot s = \text{kg}/(\text{m}\cdot\text{s})$) dengan dimensi fisik $[M][L]^{-1}[T]^{-1}$. Seiring bertambahnya kelajuan benda jatuh bebas di dalam fluida, gaya gesek Stokes dan gaya apung Archimedes akan meningkat hingga tepat menyeimbangkan gaya gravitasi bumi ($W = F_a + F_s$). Pada titik kesetimbangan gaya tersebut, resultan gaya bernilai nol dan partikel mencapai kelajuan konstan yang disebut kecepatan terminal ($v_T$):

$$m g = \rho_f V g + 6 \pi \eta r v_T \implies \rho_b \left(\frac{4}{3}\pi r^3\right) g = \rho_f \left(\frac{4}{3}\pi r^3\right) g + 6 \pi \eta r v_T$$

$$v_T = \frac{2 r^2 g (\rho_b - \rho_f)}{9 \eta}$$

Kecepatan terminal berbanding lurus dengan kuadrat jari-jari partikel bola dan selisih kerapatan massa jenis partikel terhadap zat alir sekelilingnya.

Karakteristik rezim aliran fluida riil dinilai secara kuantitatif melalui bilangan Reynolds ($Re$) yang merupakan parameter tak berdimensi:

$$Re = \frac{\rho v D}{\eta}$$

Variabel $D$ melambangkan diameter pipa atau karakteristik geometris lintasan aliran fluida ($m$). Nilai bilangan Reynolds memilah tipe aliran fluida menjadi tiga zona hidrodinamika:

  • Aliran laminar ($Re < 2000$): Partikel fluida meluncur dalam lapisan paralel teratur tanpa percampuran makroskopis antarlapisan aliran.
  • Aliran transisi ($2000 \le Re \le 4000$): Aliran mulai memperlihatkan ketidakstabilan lokal berfluktuasi antara sifat laminer dan pusaran acak.
  • Aliran turbulen ($Re > 4000$): Ditandai oleh vorteks pusaran arus acak dan peningkatan disipasi energi akibat gesekan fluida.

Tabel komparasi berikut merangkum formulasi hukum fluida statis dan dinamis beserta dimensi satuannya:

Bidang Kajian Fluida Fenomena Hukum Fisis Persamaan Matematis KaTeX Satuan Standar SI Dimensi Parameter SI
Statika Fluida Tekanan Hidrostatis Kedalaman $P_h = \rho g h$ Pascal ($Pa$) $[M][L]^{-1}[T]^{-2}$
Statika Fluida Prinsip Pengganda Hukum Pascal $\frac{F_1}{A_1} = \frac{F_2}{A_2}$ Newton ($N$) $[M][L][T]^{-2}$
Gaya Apung Hukum Archimedes $F_a = \rho_f V_{\text{celup}} g$ Newton ($N$) $[M][L][T]^{-2}$
Antarmuka Cairan Gejala Kapilaritas $h = \frac{2\gamma\cos\theta}{\rho g r}$ meter ($m$) $[L]$
Konservasi Massa Kontinuitas Laju Aliran $A_1 v_1 = A_2 v_2$ $\text{m}^3/\text{s}$ $[L]^3[T]^{-1}$
Konservasi Energi Persamaan Aliran Asas Bernoulli $P + \frac{1}{2}\rho v^2 + \rho g h = C$ Pascal ($Pa$) $[M][L]^{-1}[T]^{-2}$
Efusi Dinding Laju Teorema Torricelli $v = \sqrt{2 g h}$ $\text{m/s}$ $[L][T]^{-1}$
Dinamika Gesek Gaya Viskositas Hukum Stokes $F_s = 6 \pi \eta r v$ Newton ($N$) $[M][L][T]^{-2}$
Hidrodinamika Partikel Laju Kecepatan Terminal $v_T = \frac{2r^2 g (\rho_b - \rho_f)}{9\eta}$ $\text{m/s}$ $[L][T]^{-1}$

[!NOTE] Miskonsepsi Fluida: Teori "Equal Transit Time" Gaya Angkat Sayap Pesawat Sebagian besar buku teks lama menjelaskan gaya angkat pesawat semata-mata karena molekul udara di atas kurva sayap harus menempuh jarak lebih jauh dan tiba di tepi belakang sayap bersamaan dengan molekul di bawah sayap (equal transit time). Faktanya, prinsip waktu tempuh bersamaan ini salah secara aerodinamika. Udara di atas sayap melaju jauh lebih cepat daripada yang diprediksi oleh teori tersebut, dan gaya angkat timbul akibat kombinasi pembelokan aliran udara ke bawah (downwash) sesuai Hukum III Newton serta penurunan tekanan fluida lokal di atas profil sayap sesuai Asas Bernoulli.

Distribusi tekanan hidrostatis dan kekekalan garis arus membuktikan bahwa perilaku zat alir dapat diproyeksikan secara presisi melalui integrasi kontinuitas massa dan energi mekanik.

Hukum Termodinamika, Teori Kinetik Gas, dan Perpindahan Kalor Termal

Domain termodinamika menguraikan konversi energi termal menjadi kerja mekanik serta keteraturan gerak mikroskopis partikel atomik gas. Penurunan rumus fisika SMA pada bab termodinamika mengaitkan besaran makroskopis seperti tekanan, volume, dan temperatur mutlak dengan variabel energi dalam partikel. Penerapan analisis dimensional mengukuhkan satuan internasional (SI) Joule ($J$) sebagai tolok ukur kapasitas kerja maupun kalor termal. Setiap persamaan termal mensyaratkan penggunaan skala suhu mutlak Kelvin ($K$) demi menjamin validitas hukum gas dan perhitungan efisiensi termodinamika Kurikulum Merdeka.

Kalor Sensibel, Kalor Laten, dan Asas Black pada Kesetimbangan Termal

Kalor merupakan transfer energi termal yang melintasi batas sistem akibat adanya gradien perbedaan suhu antara sistem dan lingkungannya. Perubahan suhu benda bermassa $m$ akibat penyerapan kalor sensibel dinyatakan oleh persamaan kalorimetri:

$$Q = m \cdot c \cdot \Delta T$$

Simbol $c$ menyatakan kalor jenis zat dengan satuan internasional $\text{J}/(\text{kg}\cdot\text{K})$ yang mencerminkan ketahanan termal materi, sedangkan kapasitas kalor ($C$) menyatakan kalor yang diserap per kenaikan satu satuan suhu benda ($C = m c$). Mekanisme perpindahan panas tersebut dikaji secara komprehensif pada ulasan materi kalor dan perpindahan panas. Perubahan fase wujud materi berlangsung pada suhu konstan (isotermal fase) dengan menyerap atau melepas kalor laten:

$$Q = m \cdot L$$

Variabel $L$ melambangkan kalor laten lebur ($L_f$) atau kalor laten penguapan ($L_v$) dalam satuan $\text{J/kg}$.

Asas Black merupakan perwujudan hukum kekekalan energi pada proses pertukaran kalor antara dua zat yang terisolasi secara termal:

$$Q_{\text{lepas}} = Q_{\text{terima}} \implies m_1 c_1 (T_1 - T_c) = m_2 c_2 (T_c - T_2)$$

Suhu akhir campuran $T_c$ berada di antara rentang suhu tinggi zat pertama $T_1$ dan suhu rendah zat kedua $T_2$.

Laju perpindahan kalor terbagi menjadi tiga mekanisme fisis terpisah:

  • Konduksi termal Fourier melintasi padatan berpenampang $A$ dan panjang konduktor $L$:

    $$H = \frac{Q}{t} = \frac{k \cdot A \cdot \Delta T}{L}$$

    Konstanta $k$ menyatakan konduktivitas termal material dengan satuan $\text{W}/(\text{m}\cdot\text{K})$. Suhu sambungan dua batang logam berbeda material memenuhi relasi: $T_{\text{sambung}} = \frac{k_1 A_1 T_1/L_1 + k_2 A_2 T_2/L_2}{k_1 A_1/L_1 + k_2 A_2/L_2}$.

  • Konveksi fluida alami maupun paksa pada permukaan padat seluas $A$:

    $$H = \frac{Q}{t} = h \cdot A \cdot \Delta T$$

    Simbol $h$ menyatakan koefisien konveksi termal dengan satuan $\text{W}/(\text{m}^2\cdot\text{K})$.

  • Radiasi gelombang elektromagnetik menurut Hukum Stefan-Boltzmann:

    $$P = \frac{Q}{t} = e \cdot \sigma \cdot A \cdot T^4$$

    Emisivitas permukaan benda hitam berada pada rentang $0 < e \le 1$, sedangkan $\sigma$ merupakan konstanta Stefan-Boltzmann bernilai baku $5{,}67 \times 10^{-8},\text{W}/(\text{m}^2\cdot\text{K}^4)$. Hukum Pergeseran Wien menetapkan hubungan panjang gelombang radiasi puncak terhadap temperatur mutlak: $\lambda_{\text{max}} T = 2{,}898 \times 10^{-3},\text{m}\cdot\text{K}$.

Persamaan Keadaan Gas Ideal dan Teori Kinetik Distribusi Energi Ekuipartisi

Gas ideal memodelkan kumpulan partikel titik yang bergerak secara acak konstan dengan gaya interaksi antarmolekul yang diabaikan kecuali saat tumbukan lenting sempurna seketika. Persamaan keadaan gas ideal menghubungkan parameter makroskopis tekanan ($P$), volume ($V$), jumlah mol ($n$), dan suhu mutlak ($T$):

$$P \cdot V = n \cdot R \cdot T = N \cdot k_B \cdot T$$

Konstanta gas universal bernilai $R = 8{,}314,\text{J}/(\text{mol}\cdot\text{K})$, tetapan Boltzmann bernilai $k_B = 1{,}38 \times 10^{-23},\text{J/K}$, dan $N$ menyatakan jumlah total partikel gas ($N = n \cdot N_A$, dengan bilangan Avogadro $N_A = 6{,}022 \times 10^{23},\text{partikel/mol}$).

Teori kinetik gas menurunkan nilai tekanan mekanik makroskopis dari momentum transfer tumbukan partikel bermassa $m_0$ ke dinding wadah:

$$P = \frac{1}{3} \frac{N m_0 \overline{v^2}}{V} = \frac{2}{3} \left(\frac{N}{V}\right) \overline{E_k}$$

Teorema ekuipartisi energi menyatakan bahwa setiap derajat kebebasan kuadratik yang dimiliki oleh molekul gas menyumbang energi kinetik rata-rata sebesar $\frac{1}{2} k_B T$:

$$\overline{E_k} = \frac{f}{2} k_B T$$

Nilai derajat kebebasan ($f$) bergantung pada struktur geometri molekul dan temperatur sistem gas:

  • Gas monoatomik (Helium, Neon, Argon): Memiliki 3 derajat kebebasan translasi ($f = 3$) pada semua rentang suhu, sehingga $\overline{E_k} = \frac{3}{2} k_B T$ dan energi dalam gas adalah $U = \frac{3}{2} n R T$.
  • Gas diatomik (Oksigen, Nitrogen, Hidrogen):
    • Suhu rendah ($T \approx 250,\text{K}$): Hanya aktif 3 derajat kebebasan translasi ($f = 3$), $U = \frac{3}{2} n R T$.
    • Suhu kamar atau sedang ($T \approx 500,\text{K}$): Aktif 3 translasi dan 2 rotasi ($f = 5$), $U = \frac{5}{2} n R T$.
    • Suhu tinggi ($T \ge 1000,\text{K}$): Aktif 3 translasi, 2 rotasi, dan 2 vibrasi ($f = 7$), $U = \frac{7}{2} n R T$.

Kelajuan efektif molekul gas ideal atau Root Mean Square ($v_{\text{rms}}$) dihitung melalui akar kuadrat kelajuan rata-rata kuadrat:

$$v_{\text{rms}} = \sqrt{\overline{v^2}} = \sqrt{\frac{3 k_B T}{m_0}} = \sqrt{\frac{3 R T}{M_r}}$$

Variabel $M_r$ menyatakan massa molar gas dalam satuan $\text{kg/mol}$. Kelajuan efektif ini membuktikan bahwa pada temperatur yang sama, partikel gas berbobot molekul ringan akan melaju lebih kencang daripada molekul berat.

Hukum Pertama Termodinamika pada Proses Isobarik, Isokhorik, Isotermal, dan Adiabatik

Hukum Pertama Termodinamika menyatakan prinsip kekekalan energi untuk sistem termal yang melibatkan transfer kalor dan kerja kuasi-statis:

$$\Delta U = Q - W$$

Perjanjian tanda internasional menetapkan: kalor $Q > 0$ jika sistem menyerap panas dari lingkungan; kalor $Q < 0$ jika sistem melepaskan panas ke lingkungan; kerja $W > 0$ jika gas melakukan ekspansi mendesak lingkungan luar; kerja $W < 0$ jika gas mengalami kompresi menerima kerja luar. Kerja kuasi-statis gas dihitung melalui integral fungsi tekanan terhadap perubahan volume:

$$W = \int_{V_1}^{V_2} P , dV$$

Empat proses termodinamika standar pada diagram $P-V$ mencakup:

  • Proses Isobarik (Tekanan konstan $P_1 = P_2$):

    $$W = P (V_2 - V_1), \quad \Delta U = n C_v \Delta T, \quad Q = n C_p \Delta T$$

    Kapasitas kalor molar pada tekanan konstan ($C_p$) dan volume konstan ($C_v$) memenuhi relasi Mayer: $C_p - C_v = R$.

  • Proses Isokhorik atau Isometrik (Volume konstan $V_1 = V_2$):

    $$\Delta V = 0 \implies W = 0, \quad Q = \Delta U = n C_v \Delta T$$

  • Proses Isotermal (Suhu mutlak konstan $T_1 = T_2$):

    $$\Delta T = 0 \implies \Delta U = 0, \quad Q = W = n R T \ln\left(\frac{V_2}{V_1}\right) = n R T \ln\left(\frac{P_1}{P_2}\right)$$

  • Proses Adiabatik (Tidak ada pertukaran kalor dengan lingkungan, $Q = 0$):

    $$W = -\Delta U = -n C_v (T_2 - T_1) = \frac{1}{\gamma - 1} (P_1 V_1 - P_2 V_2)$$

    Persamaan Laplace gas ideal pada proses adiabatik menghubungkan rasio kapasitas kalor $\gamma = \frac{C_p}{C_v} > 1$:

    $$P_1 V_1^\gamma = P_2 V_2^\gamma, \quad T_1 V_1^{\gamma - 1} = T_2 V_2^{\gamma - 1}$$

Kurva proses adiabatik pada diagram $P-V$ selalu memiliki kemiringan yang lebih curam dibandingkan kurva proses isotermal karena dipengaruhi oleh eksponen Laplace $\gamma$.

Hukum Kedua Termodinamika, Siklus Mesin Kalor Carnot, dan Efisiensi Termal

Hukum Kedua Termodinamika menyatakan batasan mendasar mengenai arah spontanitas aliran kalor dan ketidakmungkinan menciptakan mesin yang mengubah seluruh kalor menjadi kerja tanpa kerugian. Pernyataan Kelvin-Planck menegaskan bahwa tidak mungkin membuat mesin kalor siklis yang semata-mata menyerap panas dari satu reservoir termal dan mengubah seluruh panas tersebut menjadi kerja mekanik netto. Siklus Carnot merepresentasikan siklus termodinamika ideal teoritis paling efisien yang beroperasi di antara dua batas suhu reservoir mutlak.

Siklus mesin Carnot terdiri atas empat tahap proses reversibel berurutan:

  1. Ekspansi isotermal pada temperatur tinggi $T_1$ dengan menyerap kalor $Q_1$ dari reservoir panas.
  2. Ekspansi adiabatik kuasi-statis hingga temperatur sistem turun dari $T_1$ menuju $T_2$.
  3. Kompresi isotermal pada temperatur rendah $T_2$ dengan melepas kalor buangan $Q_2$ ke reservoir dingin.
  4. Kompresi adiabatik kuasi-statis hingga temperatur sistem naik kembali menuju $T_1$.

Kerja mekanik netto yang dihasilkan oleh mesin Carnot dalam satu putaran siklus tertutup dirumuskan oleh selisih kalor:

$$W = Q_1 - Q_2$$

Efisiensi termal mesin kalor Carnot ($\eta$) dirumuskan melalui perbandingan kerja netto terhadap kalor input:

$$\eta = \frac{W}{Q_1} = 1 - \frac{Q_2}{Q_1} = 1 - \frac{T_2}{T_1}$$

Temperatur reservoir panas $T_1$ dan reservoir dingin $T_2$ wajib dinyatakan dalam satuan mutlak Kelvin ($K = ^\circ\text{C} + 273$).

Mesin pendingin (kulkas dan pendingin ruangan AC) membalik arah siklus Carnot untuk memindahkan kalor dari reservoir bersuhu rendah $T_2$ menuju reservoir bersuhu lebih tinggi $T_1$ dengan memerlukan asupan kerja luar $W$. Kinerja mesin pendingin diukur melalui koefisien performansi ($K_p$):

$$K_p = \frac{Q_2}{W} = \frac{Q_2}{Q_1 - Q_2} = \frac{T_2}{T_1 - T_2}$$

Konsep entropi ($S$) mengukur derajat ketidakteraturan mikroskopis sistem termodinamika. Perubahan entropi pada proses reversibel dirumuskan oleh integral perpindahan kalor terhadap suhu:

$$\Delta S = \int \frac{dQ_{\text{rev}}}{T}$$

Satuan entropi dalam standar internasional adalah Joule per Kelvin ($J/K$). Pada setiap proses alamiah ireversibel, entropi total alam semesta selalu mengalami pertambahan ($\Delta S_{\text{alam semesta}} > 0$).

Tabel komparasi berikut merangkum formulasi hukum termodinamika beserta satuan dan dimensinya:

Domain Termal Persamaan Hukum Fisis Formulasi Matematis KaTeX Satuan Standar SI Dimensi Parameter SI
Kalorimetri Asas Black Kalor $m_1 c_1 \Delta T_1 = m_2 c_2 \Delta T_2$ Joule ($J$) $[M][L]^2[T]^{-2}$
Perpindahan Panas Konduksi Termal Fourier $H = \frac{k A \Delta T}{L}$ Watt ($W$) $[M][L]^2[T]^{-3}$
Pancaran Foton Hukum Stefan-Boltzmann $P = e \sigma A T^4$ Watt ($W$) $[M][L]^2[T]^{-3}$
Persamaan Keadaan Hukum Gas Ideal $P V = n R T$ $\text{Joule} = \text{Pa}\cdot\text{m}^3$ $[M][L]^2[T]^{-2}$
Kinetika Partikel Laju Efektif Molekul RMS $v_{\text{rms}} = \sqrt{\frac{3RT}{M_r}}$ $\text{m/s}$ $[L][T]^{-1}$
Termodinamika I Kerja Proses Isobarik $W = P(V_2 - V_1)$ Joule ($J$) $[M][L]^2[T]^{-2}$
Termodinamika I Kerja Proses Isotermal $W = n R T \ln(V_2/V_1)$ Joule ($J$) $[M][L]^2[T]^{-2}$
Termodinamika I Relasi Proses Adiabatik $P_1 V_1^\gamma = P_2 V_2^\gamma$ $\text{Pa}\cdot\text{m}^{3\gamma}$ $[M][L]^{3\gamma-1}[T]^{-2}$
Termodinamika II Efisiensi Mesin Carnot $\eta = 1 - \frac{T_2}{T_1}$ Tak berdimensi / % $[1]$
Termodinamika II Koefisien Mesin Pendingin $K_p = \frac{T_2}{T_1 - T_2}$ Tak berdimensi $[1]$

[!NOTE] Miskonsepsi Termodinamika: Mitos Efisiensi Mesin 100% Tanpa Friksi Banyak siswa menduga bahwa sebuah mesin mobil atau generator listrik dapat mencapai efisiensi termal 100% asalkan semua gesekan mekanis bearing dan hambatan udara berhasil dihilangkan. Dugaan ini keliru secara termodinamika. Hukum II Termodinamika menyatakan bahwa efisiensi 100% hanya mungkin tercapai jika temperatur reservoir dingin bernilai nol mutlak ($T_2 = 0,\text{K}$), suatu kondisi batas yang mustahil dicapai secara fisik menurut Teorema Nernst (Hukum Ketiga Termodinamika). Oleh sebab itu, pembuangan kalor sisa ke lingkungan merupakan konsekuensi mutlak hukum alam, bukan semata cacat rekayasa mesin.

Hukum kekekalan energi dalam proses termodinamika menetapkan batas mutlak konversi energi termal menjadi kerja mekanik melalui kesetimbangan entropi dan temperatur mutlak.

Karakteristik Gelombang Mekanik, Gelombang Bunyi, dan Optik Geometris

Gelombang merambatkan energi dan momentum melalui medium materi atau ruang hampa tanpa memindahkan partikel medium secara permanen. Analisis dimensional memastikan perambatan gelombang menghasilkan dimensi kelajuan $[L][T]^{-1}$ yang konsisten dengan rasio panjang gelombang terhadap periode getar. Standar satuan internasional (SI) menetapkan Hertz ($Hz = 1/s$) sebagai unit baku frekuensi gelombang pada seluruh domain fisika gelombang. Pemisahan besaran skalar dan vektor memandu penentuan arah polarisasi medan serta perambatan muka gelombang dalam panduan Kurikulum Merdeka.

Persamaan Gelombang Berjalan dan Gelombang Stasioner Ujung Bebas serta Terikat

Gelombang mekanik membutuhkan medium elastis untuk merambatkan getaran harmonik. Persamaan matematis simpangan gelombang berjalan sinusoidal satu dimensi dinyatakan oleh fungsi posisi dan waktu:

$$y(x,t) = \pm A \sin(\omega t \mp k x + \phi_0)$$

Simbol $A$ menyatakan amplitudo maksimum ($m$), $\omega$ adalah frekuensi sudut ($rad/s$), $k$ adalah bilangan gelombang ($rad/m$), dan $\phi_0$ adalah sudut fase awal. Hubungan antara frekuensi sudut dan bilangan gelombang terhadap variabel getaran dirumuskan oleh persamaan:

$$\omega = 2 \pi f = \frac{2 \pi}{T}, \quad k = \frac{2 \pi}{\lambda}$$

Cepat rambat fase gelombang ($v$) menghubungkan frekuensi getaran ($f$) dan panjang gelombang ($\lambda$):

$$v = \frac{\omega}{k} = \lambda \cdot f = \frac{\lambda}{T}$$

Aturan konvensi tanda internasional: tanda di depan amplitudo bernilai positif ($+A$) jika gelombang bergetar pertama kali ke arah atas; tanda negatif ($-A$) jika bergetar pertama kali ke arah bawah. Tanda pada suku gelombang bernilai negatif ($-kx$) jika gelombang merambat ke arah sumbu $X$ positif (ke kanan), dan bertanda positif ($+kx$) jika merambat ke arah sumbu $X$ negatif (ke kiri). Beda fase antara dua titik yang terpisah jarak horizontal $\Delta x$ diuraikan melalui perbandingan:

$$\Delta \phi = \frac{\Delta x}{\lambda}$$

Gelombang stasioner atau gelombang berdiri terbentuk dari superposisi interferensi dua gelombang berjalan identik yang merambat dalam arah berlawanan:

  • Gelombang stasioner pada ujung bebas (tanpa pembalikan fase getar pada titik pantul):

    $$y = 2 A \cos(k x) \sin(\omega t)$$

    Amplitudo gelombang stasioner ujung bebas bergantung pada koordinat posisi: $A_s = 2 A \cos(k x)$. Letak simpul (amplitudo nol) dan letak perut (amplitudo maksimal $2A$) dihitung dari ujung pemantul bebas:

    $$x_{\text{perut}} = n \cdot \frac{\lambda}{2}, \quad x_{\text{simpul}} = (2n + 1) \frac{\lambda}{4} \quad (n = 0, 1, 2, \dots)$$

  • Gelombang stasioner pada ujung terikat (mengalami pembalikan fase sebesar $\pi$ radian saat memantul):

    $$y = 2 A \sin(k x) \cos(\omega t)$$

    Amplitudo stasioner ujung terikat adalah $A_s = 2 A \sin(k x)$. Letak simpul dan perut terukur dari ujung pantul terikat:

    $$x_{\text{simpul}} = n \cdot \frac{\lambda}{2}, \quad x_{\text{perut}} = (2n + 1) \frac{\lambda}{4} \quad (n = 0, 1, 2, \dots)$$

Gelombang Bunyi, Cepat Rambat Dawai Pipa Organa, Efek Doppler, dan Taraf Intensitas

Gelombang bunyi merupakan gelombang mekanik longitudinal yang merambat melalui rapatan dan renggangan medium partikel elastis. Kajian komprehensif mengenai dualitas akustik dan fotometri dapat kamu pelajari pada artikel gelombang bunyi dan cahaya. Cepat rambat gelombang transversal pada dawai tegang menurut Hukum Melde dipengaruhi oleh tegangan dawai ($F$) dan massa linier dawai ($\mu = m/L$):

$$v = \sqrt{\frac{F}{\mu}} = \sqrt{\frac{F \cdot L}{m}}$$

Cepat rambat bunyi di dalam medium gas ideal bergantung pada koefisien adiabatik $\gamma$, konstanta gas $R$, temperatur mutlak $T$, dan massa molar gas $M_r$:

$$v = \sqrt{\frac{\gamma \cdot R \cdot T}{M_r}}$$

Resonansi akustik pada dawai dan kolom udara menghasilkan pola gelombang berdiri dengan frekuensi harmonik diskrit:

  • Dawai tegang dan pipa organa terbuka (kedua ujung kolom terbuka):

    $$f_n = (n + 1) \frac{v}{2 L} \quad (n = 0, 1, 2, \dots)$$

    Rasio frekuensi nada dasar ($n=0$), nada atas pertama ($n=1$), dan seterusnya membentuk deret bilangan bulat: $f_0 : f_1 : f_2 = 1 : 2 : 3 : \dots$.

  • Pipa organa tertutup (satu ujung tertutup, satu ujung terbuka):

    $$f_n = (2n + 1) \frac{v}{4 L} \quad (n = 0, 1, 2, \dots)$$

    Rasio deret frekuensi nada harmonik membentuk perbandingan bilangan ganjil: $f_0 : f_1 : f_2 = 1 : 3 : 5 : \dots$.

Efek Doppler mendeskripsikan pergeseran frekuensi yang didengar oleh pengamat ($f_p$) akibat pergerakan relatif antara sumber bunyi ($f_s$) dan pendengar melintasi medium udara berkecepatan rambat $v$:

$$f_p = \frac{v \pm v_p}{v \mp v_s} f_s$$

Konvensi tanda Doppler: pengamat mendekati sumber ($+v_p$), pengamat menjauhi sumber ($-v_p$); sumber mendekati pengamat ($-v_s$), sumber menjauhi pengamat ($+v_s$). Jika bertiup angin dengan kelajuan $v_a$, kelajuan bunyi dikoreksi menjadi $v \pm v_a$ searah rambatan bunyi menuju pendengar.

Intensitas gelombang bunyi ($I$) mengukur daya akustik per satuan luas bidang permukaan bola bola radiasi:

$$I = \frac{P}{A} = \frac{P}{4 \pi r^2}$$

Satuan intensitas adalah Watt per meter persegi ($W/m^2$). Taraf intensitas bunyi ($TI$) diukur dalam skala logaritmik desibel ($dB$) berpatokan pada intensitas ambang pendengaran standar manusia $I_0 = 10^{-12},\text{W/m}^2$:

$$TI = 10 \log_{10}\left(\frac{I}{I_0}\right)$$

Formulasi cepat penggabungan $n$ sumber bunyi identik yang berbunyi secara simultan:

$$TI_n = TI_1 + 10 \log_{10}(n)$$

Pergeseran jarak pendengar dari titik $r_1$ ke titik $r_2$ mengubah taraf intensitas bunyi sesuai persamaan kuadrat terbalik:

$$TI_2 = TI_1 - 20 \log_{10}\left(\frac{r_2}{r_1}\right)$$

Pembiasan Cahaya Hukum Snellius dan Pembentukan Bayangan Cermin serta Lensa Tipis

Optik geometris memperlakukan berkas cahaya sebagai sinar garis lurus yang mematuhi hukum pemantulan dan pembiasan cahaya pada batas antarmuka dielektrik. Hukum pembiasan Snellius menghubungkan indeks bias medium pertama ($n_1$) dan medium kedua ($n_2$) dengan sudut datang ($\theta_1$) dan sudut bias ($\theta_2$):

$$n_1 \sin\theta_1 = n_2 \sin\theta_2$$

Indeks bias absolut medium didefinisikan sebagai perbandingan kelajuan cahaya dalam ruang hampa ($c = 3 \times 10^8,\text{m/s}$) terhadap kelajuan cahaya di dalam medium tersebut ($v$): $n = \frac{c}{v} = \frac{\lambda_0}{\lambda_n}$. Fenomena pemantulan internal total terjadi saat cahaya merambat dari medium lebih rapat menuju medium kurang rapat ($n_1 > n_2$) dengan sudut datang melebihi sudut kritis ($\theta_k$):

$$\sin\theta_k = \frac{n_2}{n_1}$$

Hubungan jarak benda ($s$), jarak bayangan ($s'$), dan panjang fokus ($f$) pada cermin lengkung dan lensa tipis Gaussian dirumuskan secara simetris:

$$\frac{1}{f} = \frac{1}{s} + \frac{1}{s'}$$

Perbesaran linier bayangan ($M$) menyatakan rasio tinggi bayangan ($h'$) terhadap tinggi benda ($h$):

$$M = \left| -\frac{s'}{s} \right| = \frac{h'}{h}$$

Konvensi tanda optik: cermin cekung dan lensa cembung memiliki nilai fokus positif ($f > 0$, konvergen); cermin cembung dan lensa cekung memiliki nilai fokus negatif ($f < 0$, divergen). Jarak bayangan positif ($s' > 0$) mengindikasikan bayangan nyata terbalik, sedangkan jarak bayangan negatif ($s' < 0$) mengindikasikan bayangan maya tegak.

Persamaan pembuat lensa (Lensmaker's Equation) menghitung kekuatan fokus lensa tipis yang memiliki jari-jari kelengkungan permukaan $R_1$ dan $R_2$ di dalam medium sekeliling $n_m$:

$$P = \frac{1}{f} = \left(\frac{n_L}{n_m} - 1\right) \left(\frac{1}{R_1} + \frac{1}{R_2}\right)$$

Daya kekuatan lensa dinyatakan dalam satuan Dioptri ($D$) dengan memasukkan panjang fokus dalam satuan meter ($P = \frac{100}{f(\text{cm})}$).

Instrumen optik memperbesar bayangan sudut objek:

  • Kaca pembesar (Lup): Untuk mata berakomodasi maksimum pada jarak titik dekat normal $S_n \approx 25,\text{cm}$, perbesaran sudut adalah $M = \frac{S_n}{f} + 1$; untuk mata tanpa akomodasi (mata rileks), perbesaran sudut adalah $M = \frac{S_n}{f}$.

  • Mikroskop cahaya: Menggunakan lensa objektif ($f_{\text{ob}}$) dan lensa okuler ($f_{\text{ok}}$). Perbesaran total mikroskop tanpa akomodasi dirumuskan:

    $$M_{\text{total}} = M_{\text{ob}} \times M_{\text{ok}} = \left(\frac{s'{\text{ob}}}{s{\text{ob}}}\right) \left(\frac{S_n}{f_{\text{ok}}}\right)$$

    Panjang tabung mikroskop diukur melalui jarak antarlensa: $d = s'{\text{ob}} + f{\text{ok}}$.

  • Teropong bintang tanpa akomodasi: Menghasilkan perbesaran sudut $M = \frac{f_{\text{ob}}}{f_{\text{ok}}}$ dengan panjang tabung teropong $d = f_{\text{ob}} + f_{\text{ok}}$.

Optik Fisis Interferensi Celah Ganda Young, Difraksi Kisi, dan Polarisasi

Optik fisis memperlakukan cahaya sebagai gelombang elektromagnetik transversal yang memperlihatkan karakteristik interferensi, difraksi, dan polarisasi. Eksperimen celah ganda Thomas Young membuktikan sifat gelombang cahaya saat dua berkas koheren dari celah berjarak $d$ membentuk pola interferensi pada layar berjarak $L$:

  • Garis terang interferensi maksimum (interferensi konstruktif):

    $$d \sin\theta = \frac{d \cdot y}{L} = m \cdot \lambda \quad (m = 0, 1, 2, \dots)$$

  • Garis gelap interferensi minimum (interferensi destruktif):

    $$d \sin\theta = \frac{d \cdot y}{L} = \left(m - \frac{1}{2}\right) \lambda \quad (m = 1, 2, 3, \dots)$$

Jarak pemisah antara dua garis terang berdekatan atau dua garis gelap berdekatan berbanding lurus dengan panjang gelombang: $\Delta y = \frac{\lambda L}{d}$.

Difraksi kisi menggunakan kisi yang memiliki ribuan garis goresan per sentimeter. Tetapan jarak antarcelah kisi ($d$) dihitung dari jumlah kisi goresan per satuan panjang ($N$): $d = \frac{1}{N}$. Pola terang difraksi kisi orde ke-$m$ memenuhi formulasi:

$$d \sin\theta = m \cdot \lambda$$

Polarisasi cahaya mengarahkan getaran vektor medan listrik gelombang cahaya ke dalam satu bidang getar tunggal. Hukum Malus menentukan intensitas berkas terpolarisasi ($I$) yang keluar dari analisator yang terpasang membentuk sudut $\theta$ terhadap bidang polarisator:

$$I = I_0 \cos^2\theta$$

Ketika cahaya alami tak terpolarisasi melintasi keping polarisator pertama, intensitas cahaya tereduksi tepat separuh dari intensitas awal ($I_1 = \frac{1}{2} I_0$). Polarisasi karena pemantulan dan pembiasan mencapai kesempurnaan pada sudut datang Brewster ($\theta_B$):

$$\tan\theta_B = \frac{n_2}{n_1}$$

Pada sudut polarisasi Brewster tersebut, sinar pantul dan sinar bias membentuk sudut saling tegak lurus ($90^\circ$).

Tabel komparasi berikut merangkum formulasi gelombang mekanik, akustik bunyi, dan optika fisis:

Fenomena Gelombang Nama Hukum / Pola Persamaan Matematis KaTeX Satuan Standar SI Dimensi Parameter SI
Kinematika Gelombang Cepat Rambat Fase $v = \lambda f = \frac{\omega}{k}$ $\text{m/s}$ $[L][T]^{-1}$
Gelombang Tali Kecepatan Hukum Melde $v = \sqrt{\frac{F \cdot L}{m}}$ $\text{m/s}$ $[L][T]^{-1}$
Resonansi Akustik Harmonik Pipa Terbuka $f_n = (n + 1) \frac{v}{2L}$ Hertz ($Hz$) $[T]^{-1}$
Resonansi Akustik Harmonik Pipa Tertutup $f_n = (2n + 1) \frac{v}{4L}$ Hertz ($Hz$) $[T]^{-1}$
Akustik Dinamis Efek Doppler Relatif $f_p = \frac{v \pm v_p}{v \mp v_s} f_s$ Hertz ($Hz$) $[T]^{-1}$
Intensitas Bunyi Skala Taraf Desibel $TI = 10 \log_{10}(I/I_0)$ Desibel ($dB$) Tak berdimensi
Optik Geometri Refraksi Hukum Snellius $n_1 \sin\theta_1 = n_2 \sin\theta_2$ Tak berdimensi $[1]$
Optik Lensa Pembuat Lensa Gaussian $\frac{1}{f} = (n - 1)\left(\frac{1}{R_1} + \frac{1}{R_2}\right)$ $\text{meter}^{-1}$ (Dioptri) $[L]^{-1}$
Optik Fisis Kisi Difraksi Maksimum $d \sin\theta = m \lambda$ meter ($m$) $[L]$
Polarisasi Gelombang Penyerapan Hukum Malus $I = I_0 \cos^2\theta$ $\text{W/m}^2$ $[M][T]^{-3}$

[!NOTE] Miskonsepsi Gelombang: Mitos Cepat Rambat Bunyi Bergantung Nada Suara Sebagian siswa keliru meyakini bahwa suara lengkingan bernada tinggi (frekuensi tinggi) merambat lebih cepat melintasi udara dibandingkan suara bas bernada rendah. Faktanya, cepat rambat gelombang bunyi di udara murni ditentukan oleh sifat termodinamika medium perantara ($v = \sqrt{\gamma R T / M_r}$), bukan oleh frekuensi atau amplitudo getaran. Ketika frekuensi suara meningkat, panjang gelombangnya otomatis memendek secara proporsional sehingga hasil kali $v = \lambda f$ selalu konstan pada medium dan temperatur yang sama.

Persamaan gelombang harmonik dan modulasi refraksi membuktikan bahwa perambatan getaran mekanik maupun elektromagnetik mematuhi hukum interferensi fase matematis yang teratur.

Formulasi Medan Listrik Statis, Elektromagnetik, dan Rangkaian Arus Bolak-Balik AC

Domain elektromagnetisme mengkaji interaksi muatan stasioner, arus elektron terarah, serta induksi fluks medan magnet yang melahirkan arus bolak-balik modern. Penguasaan rumus fisika SMA pada domain kelistrikan menuntut analisis dimensional yang menghubungkan dimensi mekanika dengan satuan pokok kuat arus listrik Ampere ($A$). Satuan internasional (SI) menetapkan Volt ($V$), Ohm ($\Omega$), Tesla ($T$), Henry ($H$), dan Farad ($F$) sebagai besaran turunan baku dalam elektromagnetika. Pengintegrasian besaran skalar dan vektor diperlukan saat membedakan potensial skalar dari vektor kuat medan listrik pada silabus Kurikulum Merdeka.

Hukum Coulomb, Kuat Medan Listrik, Potensial Listrik, dan Kapasitor Keping Sejajar

Elektrostatika menganalisis gaya interaksi antar-muatan listrik diam. Hukum Coulomb menyatakan bahwa besar gaya tarik atau tolak antara dua muatan titik berbanding lurus dengan perkalian besar muatan dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak pisahnya:

$$F = k \frac{|q_1 \cdot q_2|}{r^2}$$

Konstanta elektrostatis $k$ berhubungan dengan permitivitas ruang hampa ($\varepsilon_0 = 8{,}85 \times 10^{-12},\text{C}^2/(\text{N}\cdot\text{m}^2)$) dengan nilai numerik $k = \frac{1}{4 \pi \varepsilon_0} \approx 8{,}99 \times 10^9,\text{N}\cdot\text{m}^2/\text{C}^2$.

Kuat medan listrik ($\vec{E}$) mendefinisikan gaya elektrostatis per satuan muatan uji positif yang ditempatkan pada titik tertentu dalam ruang:

$$\vec{E} = \frac{\vec{F}}{q_0} = k \frac{Q}{r^2} \hat{r}$$

Dimensi kuat medan listrik adalah $[M][L][T]^{-3}[I]^{-1}$ dengan satuan $N/C$ atau $V/m$. Potensial listrik ($V$) merupakan besaran skalar yang menyatakan energi potensial per satuan muatan uji:

$$V = k \frac{Q}{r}$$

Energi potensial elektrostatik interaksi antara dua muatan $q_1$ dan $q_2$ dirumuskan oleh persamaan skalar: $E_p = q_2 V = k \frac{q_1 q_2}{r}$. Hubungan gradien antara kuat medan listrik dan beda potensial pada medan homogen berjarak $d$ dirumuskan oleh $E = \frac{\Delta V}{d}$.

Kapasitor berfungsi sebagai peranti penyimpan muatan dan energi dalam bentuk medan listrik elektrostatik. Kapasitansi kapasitor keping sejajar seluas $A$ dan terpisah sejauh $d$ dengan bahan dielektrik berkonstanta $\varepsilon_r$:

$$C = \varepsilon_r \cdot \varepsilon_0 \frac{A}{d}$$

Satuan kapasitansi adalah Farad ($F = C/V$). Muatan yang terakumulasi pada keping kapasitor berbanding lurus dengan beda potensial yang dipasang ($Q = C \cdot V$). Energi elektrostatik yang tersimpan di dalam medan keping kapasitor:

$$W = \frac{1}{2} C V^2 = \frac{1}{2} \frac{Q^2}{C} = \frac{1}{2} Q V$$

Penggabungan kapasitor dalam rangkaian listrik:

  • Susunan seri (muatan pada tiap kapasitor bernilai sama $Q_{\text{total}} = Q_1 = Q_2$):

    $$\frac{1}{C_s} = \frac{1}{C_1} + \frac{1}{C_2} + \dots$$

  • Susunan paralel (beda potensial pada tiap kapasitor bernilai sama $V_{\text{total}} = V_1 = V_2$):

    $$C_p = C_1 + C_2 + \dots$$

Elektrodinamika Arus Searah DC, Hukum Ohm, dan Hukum Kirchhoff I dan II

Arus listrik searah (DC) mendeskripsikan laju aliran netto muatan listrik melalui penampang kawat konduktor per satuan waktu ($I = \frac{dQ}{dt}$). Hubungan antara arus listrik, beda potensial, dan resistansi disajikan secara terstruktur dalam pembahasan hukum Ohm dan rangkaian listrik. Hukum Ohm menetapkan bahwa kuat arus yang melintasi konduktor berbanding lurus dengan beda tegangan pada ujung-ujungnya selama suhu konduktor dijaga konstan:

$$V = I \cdot R$$

Resistansi hambatan kawat silinder ($R$) dipengaruhi oleh hambatan jenis materi ($\rho$), panjang bentangan kawat ($L$), dan luas penampang kawat ($A$):

$$R = \rho \frac{L}{A}$$

Ketergantungan resistansi terhadap fluktuasi temperatur dinyatakan oleh persamaan koefisien suhu $\alpha$: $R_T = R_0 (1 + \alpha \Delta T)$.

Analisis rangkaian listrik majemuk bercabang mengacu pada dua hukum konservasi Kirchhoff:

  • Hukum I Kirchhoff (Kirchhoff's Current Law - KCL): Berlandaskan hukum kekekalan muatan listrik, jumlah arus yang masuk ke suatu titik percabangan tepat sama dengan jumlah arus yang meninggalkan titik tersebut:

    $$\sum I_{\text{masuk}} = \sum I_{\text{keluar}}$$

  • Hukum II Kirchhoff (Kirchhoff's Voltage Law - KVL): Berlandaskan hukum kekekalan energi listrik, jumlah aljabar perubahan beda potensial mengelilingi suatu lintasan loop tertutup bernilai nol:

    $$\sum \mathcal{E} + \sum (I \cdot R) = 0$$

Aturan tanda loop Kirchhoff: GGL bernilai positif ($+\mathcal{E}$) jika arah loop pertama kali menemui kutub positif sumber tegangan; penurunan tegangan bernilai positif ($+I R$) jika arah lintasan loop searah dengan arah arus listrik yang dimisalkan.

Disipasi energi listrik menjadi panas mengikuti Hukum Joule:

$$W = V \cdot I \cdot t = I^2 \cdot R \cdot t = \frac{V^2}{R} \cdot t$$

Daya listrik disipasi ($P$) dihitung dalam satuan Watt ($W = J/s$):

$$P = \frac{W}{t} = V \cdot I = I^2 \cdot R = \frac{V^2}{R}$$

Medan Magnetik Hukum Biot-Savart, Gaya Lorentz, dan Induksi Elektromagnetik Faraday

Medan magnetik ($\vec{B}$) dihasilkan oleh muatan listrik yang bergerak atau arus listrik konduktor. Permeabilitas magnetik ruang hampa bernilai baku $\mu_0 = 4 \pi \times 10^{-7},\text{T}\cdot\text{m/A}$. Satuan medan magnet dalam standar internasional adalah Tesla ($T = \text{Wb/m}^2$). Kuat medan magnetik di sekitar kawat konduktor dihitung melalui formulasi berikut:

  • Kawat lurus panjang berarus $I$ pada jarak tegak lurus $r$:

    $$B = \frac{\mu_0 \cdot I}{2 \pi \cdot r}$$

  • Titik pusat kawat melingkar $N$ lilitan beradius $a$:

    $$B = \frac{\mu_0 \cdot I \cdot N}{2 a}$$

  • Di dalam rongga sumbu pusat solenoida berpanjang $L$ dengan $N$ lilitan ($n = N/L$):

    $$B = \mu_0 \cdot n \cdot I$$

  • Di dalam sumbu toroida melingkar beradius efektif $r$:

    $$B = \frac{\mu_0 \cdot N \cdot I}{2 \pi \cdot r}$$

Gaya Lorentz ($\vec{F}_L$) menyatakan interaksi mekanik yang dialami partikel bermuatan atau kawat berarus di dalam medan magnetik luar:

  • Partikel bermassa $m$ dan bermuatan $q$ yang melaju dengan vektor kecepatan $\vec{v}$ di dalam medan magnetik $\vec{B}$:

    $$\vec{F}_L = q (\vec{v} \times \vec{B}) \implies F_L = q \cdot v \cdot B \cdot \sin\theta$$

    Jika kecepatan partikel tegak lurus terhadap medan magnet ($\theta = 90^\circ$), gaya Lorentz bekerja sebagai gaya sentripetal murni yang membelokkan partikel ke dalam lintasan orbit melingkar beradius:

    $$r = \frac{m \cdot v}{q \cdot B}$$

  • Kawat berarus $I$ sepanjang $\vec{L}$ yang terbentang di dalam medan magnet:

    $$\vec{F}_L = I (\vec{L} \times \vec{B}) \implies F_L = B \cdot I \cdot L \cdot \sin\theta$$

  • Gaya interaksi magnetik per satuan panjang antara dua kawat lurus sejajar berarus $I_1$ dan $I_2$ yang terpisah sejauh $a$:

    $$\frac{F}{L} = \frac{\mu_0 \cdot I_1 \cdot I_2}{2 \pi \cdot a}$$

    Dua kawat akan saling tarik-menarik jika arus mengalir searah, dan saling tolak-menolak jika arus mengalir berlawanan arah.

Induksi elektromagnetik menjelaskan timbulnya gaya gerak listrik (GGL) akibat perubahan fluks magnetik yang menembus luasan simpal kawat tertutup. Fluks magnetik ($\Phi$) didefinisikan sebagai perkalian titik antara vektor medan magnet dan luas penampang:

$$\Phi = \vec{B} \cdot \vec{A} = B \cdot A \cdot \cos\theta$$

Hukum Induksi Faraday dan Hukum Lenz memformulasikan GGL induksi timbal balik:

$$\mathcal{E} = -N \frac{d\Phi}{dt}$$

Tanda minus mencerminkan Hukum Lenz, yang menyatakan bahwa arah arus induksi selalu menghasilkan medan magnet yang melawan perubahan fluks asalnya. Batang konduktor sepanjang $L$ yang digerakkan memotong tegak lurus medan magnetik $B$ dengan kelajuan $v$ membangkitkan GGL induksi gerak:

$$\mathcal{E} = B \cdot L \cdot v \cdot \sin\theta$$

Induktansi diri solenoida ($L$) diukur dalam satuan Henry ($H$): $L = \frac{\mu_0 N^2 A}{\ell}$. GGL induksi diri akibat perubahan arus listrik internal dirumuskan oleh $\mathcal{E} = -L \frac{dI}{dt}$, dengan energi magnetik yang tersimpan di dalam induktor sebesar $W = \frac{1}{2} L I^2$. Transformator ideal mentransfer daya listrik AC tanpa rugi-rugi:

$$\frac{V_p}{V_s} = \frac{N_p}{N_s} = \frac{I_s}{I_p}$$

Efisiensi transformator riil memperhitungkan disipasi daya panas: $\eta = \frac{P_s}{P_p} \times 100% = \frac{V_s I_s}{V_p I_p} \times 100%$.

Rangkaian Arus Bolak-Balik RLC Seri, Impedansi Total, dan Resonansi Frekuensi

Arus bolak-balik (AC) memiliki nilai tegangan dan kuat arus yang berosilasi sinusoidal terhadap fungsi waktu. Persamaan sinusoidal tegangan sesaat dan arus sesaat dinyatakan oleh fungsi:

$$V(t) = V_{\text{max}} \sin(\omega t), \quad I(t) = I_{\text{max}} \sin(\omega t - \phi)$$

Nilai efektif (Root Mean Square) menyatakan nilai ekuivalen arus AC yang menghasilkan efek disipasi termal yang sama dengan arus DC pada resistor murni:

$$V_{\text{ef}} = \frac{V_{\text{max}}}{\sqrt{2}} \approx 0{,}707 V_{\text{max}}, \quad I_{\text{ef}} = \frac{I_{\text{max}}}{\sqrt{2}} \approx 0{,}707 I_{\text{max}}$$

Instrumen alat ukur voltmeter dan amperemeter AC selalu membaca nilai efektif ini, bukan nilai maksimum.

Komponen pasif dalam rangkaian arus bolak-balik memberikan resistansi reaktif terhadap frekuensi putar sudut $\omega = 2 \pi f$:

  • Reaktansi induktif ($X_L$) dari komponen induktor $L$:

    $$X_L = \omega \cdot L = 2 \pi \cdot f \cdot L$$

  • Reaktansi kapasitif ($X_C$) dari komponen kapasitor $C$:

    $$X_C = \frac{1}{\omega \cdot C} = \frac{1}{2 \pi \cdot f \cdot C}$$

Satuan reaktansi induktif dan kapasitif adalah Ohm ($\Omega$). Pada rangkaian RLC seri, perlawanan total terhadap arus gabungan disebut impedansi rangkaian ($Z$):

$$Z = \sqrt{R^2 + (X_L - X_C)^2}$$

Tegangan total rangkaian RLC seri dihitung melalui penjumlahan fasor tegangan komponen:

$$V_{\text{total}} = \sqrt{V_R^2 + (V_L - V_C)^2}$$

Beda sudut fase getar ($\phi$) antara gelombang tegangan dan arus listrik:

$$\tan\phi = \frac{X_L - X_C}{R} = \frac{V_L - V_C}{V_R}$$

Karakteristik fase rangkaian terbagi menjadi tiga kondisi operasional:

  • Rangkaian bersifat induktif ($X_L > X_C$): Tegangan mendahului arus sebesar sudut fase $\phi$.
  • Rangkaian bersifat kapasitif ($X_C > X_L$): Arus mendahului tegangan sebesar sudut fase $\phi$.
  • Rangkaian resistif murni atau resonansi seri ($X_L = X_C$): Tegangan dan arus listrik berada dalam satu fase seirama ($\phi = 0$).

Keadaan resonansi seri menghasilkan impedansi minimum sebesar nilai hambatan resistor ($Z = R$), sehingga kuat arus efektif mencapai nilai puncak maksimum. Frekuensi resonansi seri ($f_0$) dihitung melalui penyamaan reaktansi induktif dan kapasitif:

$$\omega_0 L = \frac{1}{\omega_0 C} \implies \omega_0^2 = \frac{1}{L C} \implies f_0 = \frac{1}{2 \pi \sqrt{L \cdot C}}$$

Faktor daya rangkaian AC didefinisikan sebagai kosinus sudut fase ($\cos\phi = \frac{R}{Z}$). Daya disipasi aktif nyata yang dikonsumsi oleh rangkaian listrik bolak-balik dirumuskan secara presisi:

$$P = V_{\text{ef}} \cdot I_{\text{ef}} \cdot \cos\phi = I_{\text{ef}}^2 \cdot R$$

Tabel komparasi berikut merangkum formulasi medan elektromagnetik dan rangkaian listrik AC:

Kategori Elektromagnetik Nama Hukum Kelistrikan Persamaan Matematis KaTeX Satuan Standar SI Dimensi Parameter SI
Elektrostatika Hukum Coulomb Gaya $F = k \frac{ q_1 q_2 }{r^2}$
Medan Muatan Potensial Skalar Listrik $V = k \frac{Q}{r}$ Volt ($V$) $[M][L]^2[T]^{-3}[I]^{-1}$
Kapasitansi Kapasitor Keping Sejajar $C = \varepsilon_r \varepsilon_0 \frac{A}{d}$ Farad ($F$) $[M]^{-1}[L]^{-2}[T]^4[I]^2$
Elektrodinamika Resistansi Hambatan Kawat $R = \rho \frac{L}{A}$ Ohm ($\Omega$) $[M][L]^2[T]^{-3}[I]^{-2}$
Rangkaian Tertutup Hukum II Kirchhoff $\Sigma \mathcal{E} + \Sigma (IR) = 0$ Volt ($V$) $[M][L]^2[T]^{-3}[I]^{-1}$
Medan Arus Kawat Lurus Biot-Savart $B = \frac{\mu_0 I}{2\pi r}$ Tesla ($T$) $[M][T]^{-2}[I]^{-1}$
Gaya Lintasan Gaya Lorentz Muatan $F_L = q v B \sin\theta$ Newton ($N$) $[M][L][T]^{-2}$
Induksi Medan Hukum Faraday Lenz $\mathcal{E} = -N \frac{d\Phi}{dt}$ Volt ($V$) $[M][L]^2[T]^{-3}[I]^{-1}$
Arus Bolak-Balik Impedansi Total RLC $Z = \sqrt{R^2 + (X_L - X_C)^2}$ Ohm ($\Omega$) $[M][L]^2[T]^{-3}[I]^{-2}$
Resonansi Sirkuit Frekuensi Resonansi Seri $f_0 = \frac{1}{2\pi \sqrt{LC}}$ Hertz ($Hz$) $[T]^{-1}$

[!NOTE] Miskonsepsi Elektromagnetik: Laju Hanyut Elektron vs Laju Sinyal Listrik Banyak siswa membayangkan saat sakelar lampu ditekan, elektron mengalir dari sakelar menuju filamen lampu dengan kelajuan mendekati kecepatan cahaya. Faktanya, laju hanyut rata-rata (drift velocity) elektron di dalam kabel kawat tembaga hanya berkisar antara $10^{-4}$ hingga $10^{-3},\text{m/s}$ (sangat lambat, kurang dari satu milimeter per detik). Lampu seketika menyala karena medan elektromagnetik pembawa energi merambat melintasi ruang kabel dengan kelajuan gelombang mendekati laju cahaya ($3 \times 10^8,\text{m/s}$), yang secara simultan mendorong seluruh elektron yang sudah berada di sepanjang filamen kawat lampu.

Hukum interaksi elektromagnetik dan sirkuit AC membuktikan bahwa aliran energi listrik dikendalikan oleh fluks medan vektor dan osilasi impedansi yang terpadu secara matematis.

Extractive Summary Katalog Rumus Fisika SMA Lengkap

Rangkuman intisari ekstraktif berikut menyajikan deklarasi fakta kunci dari kelima domain materi rumus fisika SMA:

  1. Mekanika Klasik: Gerak translasional dan rotasi partikel sepenuhnya ditentukan oleh kesetaraan resultan gaya luar terhadap laju perubahan momentum serta kekekalan energi mekanik pada sistem konservatif.
  2. Statika dan Dinamika Fluida: Distribusi tekanan hidrostatis berbanding lurus dengan kedalaman fluida, sedangkan fluida ideal mempertahankan kestabilan garis arus melalui konservasi kontinuitas massa debit dan konservasi energi Asas Bernoulli.
  3. Termodinamika dan Kalor: Transfer kalor sensibel maupun laten mematuhi kesetimbangan Asas Black, sedangkan konversi energi termal menjadi kerja mekanik dibatasi secara mutlak oleh batas efisiensi siklus mesin Carnot menurut Hukum Kedua Termodinamika.
  4. Gelombang dan Optika: Pola perambatan gelombang mekanik, bunyi, dan cahaya dikendalikan oleh cepat rambat fase medium elastis, relasi dispersi pergeseran frekuensi Doppler, serta fenomena pembiasan dan difraksi kisi optik.
  5. Elektromagnetisme dan Rangkaian AC: Interaksi medan elektrostatik Coulomb dan induksi magnetik Faraday berintegrasi dalam sirkuit arus bolak-balik melalui penentuan impedansi fasor dan frekuensi resonansi RLC.

Penguasaan rumus fisika SMA secara paripurna tidak bertumpu pada penghafalan simbolik pasif, melainkan berakar pada penerapan analisis dimensional terstruktur:

  • Identifikasi dimensi besaran fisik dasar $[M][L][T][I][\theta]$ untuk memverifikasi konsistensi persamaan sebelum melakukan substitusi angka desimal.
  • Bedakan karakteristik besaran skalar yang hanya memiliki nilai numerik dari besaran vektor yang menuntut penguraian sudut proyeksi trigonometri.
  • Uji kondisi batas ekstrem (limiting cases) pada rumus akhir untuk memastikan persamaan matematis tetap konsisten saat variabel bernilai nol atau tak terhingga.

TugasMu hadir sebagai teman pintar belajar yang berkomitmen menyajikan bimbingan konsep sains secara terstruktur dan transparan. Terus asah pemahaman logika fisikamu dengan berlatih aktif, pahami konsepnya secara menyeluruh, dan gunakan instrumen bimbingan AI TugasMu untuk menyelesaikan setiap tantangan studi sains secara mandiri dan percaya diri.

TM

Redaksi TugasMu

Tim Edukasi

Tim kurator konten yang berdedikasi untuk membagikan tips belajar, pembaruan kurikulum, dan cara cerdas memanfaatkan AI bagi pelajar Indonesia.

auto_storiesBaca Juga di Kategori Ini

Lihat Semua ipaarrow_forward